SIDA PLEMBUTAN – Peringatan Mangayubagyo Yuswa Dalem ke-80 Sri Sultan Hamengku Buwono X berlangsung meriah dengan digelarnya kirab massal bertajuk “Gelondong Pengarem-arem”. Kegiatan ini menjadi wujud syukur sekaligus simbol kebersamaan masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta dalam memperingati hari kelahiran raja mereka.
Kirab diikuti oleh panewu/mantri, lurah, serta pamong dari 438 kalurahan se-DIY. Ribuan peserta tampak antusias mengikuti jalannya kirab dengan mengenakan pakaian adat serta membawa berbagai hasil bumi dan potensi unggulan dari wilayah masing-masing.
Rute kirab dimulai dari sepanjang Jalan Malioboro dan berakhir di Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Sepanjang perjalanan, peserta menampilkan beragam hasil pertanian seperti beras, umbi-umbian, hingga ternak hidup sebagai simbol kemakmuran dan kearifan lokal masyarakat Yogyakarta.
“Gelondong Pengarem-arem” yang diarak dalam kirab ini merupakan simbol persembahan dari rakyat kepada Keraton. Namun, makna yang terkandung di dalamnya tidak berhenti pada prosesi tersebut. Setelah dihaturkan, hasil bumi tersebut nantinya akan dikembalikan kepada masyarakat.
Hal ini mencerminkan nilai luhur gotong royong yang menjadi filosofi kehidupan masyarakat Yogyakarta, yakni dari rakyat untuk rakyat. Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat kebersamaan, kepedulian, serta pelestarian budaya terus terjaga di tengah perkembangan zaman.
Kirab ini tidak hanya menjadi tontonan yang menarik, tetapi juga menjadi pengingat akan pentingnya sinergi antara masyarakat dan Keraton dalam menjaga keharmonisan serta kesejahteraan bersama.